06.32


Cermin Tua

 

Masih kutatap cermin di depan ku, cermin yang tak pernah berbohong padaku. Cermin yang selalu menemaniku melewati masa-masa hidupku. Dia pernah melihatku saat diriku sedang di dandani oleh Mamak ketika mau belajar mengaji di surau kampung sebelah, seingatku aku berumur 6 tahunan. Dia juga melihatku saat belajar berdandan karena aku merasa ingin mempercantik diriku hingga aku dilihat oleh orang lain, itu masa aku lepas dari usia 15 tahunan. Sampailah kini Dia melihatku dengan kondisi telah jauh berbeda, rambutku sudah terhitung warna hitamnya, muka yang telah digelayuti kulit-kulit keriput dan mata yang tidak secerah dulu.

Dia tidak berbohong saat Luni, isteri dari anak laki-lakiku semata wayang menggantikan pakaianku karena aku tidak bisa menahan buang air kecilku. Saat dia memarahiku karena aku tidak mau mandi karena aku merasa baru beberapa saat lalu aku baru selesai mandi. “Ibu, ayolah mandi dulu sudah 3 hari Ibu tidak mandi, sudah bau tau!” teriaknya. Aku tahu dia sudah kehilangan banyak kesabaran karena sikapku.

Seperti hari ini juga, saat kulihat banyak makanan enak di meja dapur. Seingatku, sudah 2 hari aku tidak di berinya makan. Kurasakan perutku sudah tidak bisa menunggu lagi, hingga semua makanan berakhir di mulut tanpa gigi milikku. “Masyaallah Ibu, Ibu memakan semuanya? Ibu, ini makanan aku siapkan untuk tamu nanti malam. Bukankah baru 1 jam yang lalu Ibu makan dengan sayur  yang sama? Bahkan Siang tadi ibu sudah makan sampai nambah 3 kali, mengapa sekarang makanan ini Ibu habiskan juga? Hah..sabar..sabar..” teriak Luni lagi-lagi. Aku bingung kenapa aku lupa?mengapa perut ini serasa lama tidak terisi?

Aku juga lupa namaku sekarang, aku lupa nama cucu-cucuku yang selalu bersileweran di depanku. “Siti, sini nenek gendong”, ajakku pada salah satu cucuku. “Hih, mana nenek kuat? Jalan saja pakai tongkat? Lagian namaku bukan Siti nek, tapi Husin! Aku juga tak perlu di gendong, aku sudah 17 tahun!” teriak cucuku. Nah, sudah berapa kali aku juga lupa bahwa badanku sudah tidak seperti dulu lagi. Dulu ketika muda, aku bekerja menjadi buruh angkut di kebon kopi milik juragan tanah desa.  

Sore seperti biasa aku selalu duduk di bale-bale depan rumah. Seorang laki-laki datang menghampiriku dan duduk di sebelahku, “Ibu ini sudah Maghrib, ayo masuk rumah”. Aku menoleh dan terlihat lelaki ini sangat tampan, terlintas ingatan pada sesosok lelaki yang sangat mirip dengannya. Siapa dia? Mengapa dia sangat mirip dengan lelaki yang dapat membuatku menghabiskan waktu di depan cermin untuk bersolek. “Kamu siapa? Apa aku mengenalmu?” tanyaku pada lelaki itu. Dia tersenyum, manis sekali senyumnya. “Ibu, ini Bastian. Putera ibu satu-satunya. Ibu lupa?”. Duh..Gusti..dia anak kesayanganku. Rupanya dia menurunkan fisik Bapaknya, Suamiku yang sudah mendahuluiku menghadap Allah setelah sebutir proyektil menembus jantungnya saat Ia ikut dalam barisan tentara perang.

Bastian lahir saat negeri ini sedang ‘perang’ melawan Malaysia yang dipimpin oleh Presiden Soekarno, banyak tentara pada saat itu selalu berteriak “Ganyang Malaysia”.  Setelah bayi laki-laki tampan itu menikmati ayunan Bapaknya selama 6 hari, ia harus rela berpisah karena ia adalah anak seorang Syahid. Sendiri aku besarkan Bastian hingga kini ia telah mempunyai isteri dan 3 anak yang tampan-tampan juga. Aku sangat berharap jika waktu senja nanti Bastian dan isterinya mampu memberiku tempat yang nyaman sambil menunggu takdir. Ah, aku lupa sejak kapan harapan itu musnah dalam ingatanku. Bastian bekerja di luar kota yang hanya 2 minggu sekali  bisa menjenguk keluarga dan aku-ibunya.

Ya Allah, aku sudah tidak bisa menangis lagi. Entah karena sudah habis air mata ini atau karena memang aku sudah terbiasa dengan perlakuan semacam ini. Ibu macam apa aku ini, yang hanya menyusahkan menantuku saja. Hari ini juga ketika aku sudah tidak tahan untuk buang besar di kamar ku. Wahai cermin, lihatkah engkau? Aku sudah berusaha untuk berjalan ke kamar mandi, aku sudah berusaha menahan agar tidak mengeluarkan kotoran sebelum sampai ke sana. Tapi, entah aku tidak tahu, aku tidak sengaja ketika kulihat kotoran itu sudah berceceran kemana-mana. “Ibu.., Aku bukan pembantumu, bisa tidak Ibu memanggil aku sebelum buang air besar!” Lagi-lagi kulihat Luni, menantuku marah-marah sambil membersihkan kotoranku. Aku diam, aku merasa bersalah. Aku merasa sangat kasihan dengan Luni, dia harus mengurus anak-anak sendirian tapi juga harus mengurusku. Luni, andai aku bisa meringankan bebanmu, aku sangat ingin melakukannya.

“Nenek, harusnya nenek ke Panti Jompo saja. Disana nanti banyak teman-teman seusia nenek, kasihan kan ibu harus mengurus nenek setiap hari?” itu kata salah satu cucuku, entah siapa namanya aku selalu lupa. Yang ku ingat dia mengatakan Panti Jompo, tempat apakah itu? Benarkah di sana banyak teman-teman sepertiku? Lalu bagaimana cara aku kesana dan bagaimana juga ketika aku ingin pulang.

Kudengar suara ribut di kamar putera dan menantuku, walau aku sudah tidak begitu jelas mendengarnya, sangat pelan kudengar “Aku sudah capek mas!” sepertinya itu suara Luni. “Ibu adalah satu-satunya milikku yang tersisa sekarang, kewajiban kita untuk bisa merawatnya!” itu jelas suara Bastian. “Ya sudah, mas pilih Ibu atau Isteri dan anak-anakmu!” Luni berteriak lagi. Senyap kemudian, aku  berfikir mereka sedang merebutkan sesuatu, makanan, pakaian atau minuman? Entahlah aku tidak tahu.

Pagi itu Luni terlihat berbeda, dia memandikanku, mendadaniku dengan sangat cekatan. “Ibu hari ini kita akan jalan-jalan. Ibu ikut ya, nanti Ibu akan bertemu dengan teman-teman Ibu”. Aku tersenyum senang, Luni memang sangat baik. Setelah semua yang aku lakukan dia masih senang mengajakku jalan-jalan. Berbeda dengan Bastian, dia malah terlihat murung dan sedih. Ada apa gerangan, apa ia tidak suka aku ikut jalan-jalan? Bicaralah anakku, jika memang engkau tidak suka, aku rela tinggal di rumah. Cukuplah cermin di kamarku yang menjadi temanku.

Sepanjang perjalanan Bastian dan isterinya saling diam, tidak bercanda-canda seperti biasanya. Aku pun diam, aku takut akan lebih merusak suasana mereka. Mobil kami berhenti di sebuah bangunan tua, kami turun. “Ibu, ayo turun. Kita sudah sampai” ajak Luni. Wajah Bastian tetap sama seperti dari rumah tadi, bahkan sekarang lebih mendung. Terlihat matanya memerah saat menatapku. Ada apakah dengan dirimu sayangku, kamu tidak sedang sakit kan? Tanyaku dalam hati. Aku sangat hafal dengan sifatmu, biasanya jika kamu punya masalah dan merasa sedih, bahukulah yang selalu basah dengan air matamu.

Aku menunggu di temani oleh anak-anak muda yang cantik, mereka memakai kerudung yang rapi. Seingatku cucu pertamaku mungkin seusia mereka. “Selamat datang nenek, sekarang kami teman nenek. Kami yang akan merawat nenek dengan baik” katanya dengan senyum manis. Maksudnya aku akan tinggal di sini? Aku tidak faham. Sejurus kemudian Bastian memelukku erat dan bersujud di kaki ku. “Maafkan Bastian bu, Bastian anak yang tidak berbakti. Bastian tidak bisa merawat ibu dengan baik” sambil terus menangis seperti kebiasaannya dulu. Aku elus kepalanya lembut, sambil tersenyum “Ibu selalu mendoakanmu nak, Ibu selalu mendoakanmu”. Entah berapa lama kami berpelukan, aku lupa hingga Luni menarik Bastian dan meninggalkanku bersama cermin dalam pelukanku dan anak-anak muda yang cantik-cantik ini. Mereka menjauh seiring bisikan lembutku untuk mereka “Aku selalu mendoakan kalian”. (tnh-12/11/12)

 

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images