07.14
SK mas Setya
Masih
saja dia duduk di kursi ruang belakang sambil menatap pintu, bukan menatap rak
piring, bukan menatap ember-ember cucian, bukan..ah entah apa yang sedang di
lihat oleh suamiku itu. Diam dan menatap dengan tatapan kosong, aku sengaja
membiarkan dia seperti itu. Aku takut akan membuatnya lebih sedih lagi.
Berawal
dari enam bulan lalu ketika Mas Setya menerima sebuah surat panggilan dari
kantornya. Seperti biasa dia berangkat pagi setelah mengantar anak-anak sekolah
dengan sepeda motor kebanggaannya. Kuhantar dengan senyuman dan sebait do’a
untuk mereka. “Ya Allah berikan kemudahan untuk segala usaha mereka..”.
Aku
seorang isteri dengan 3 anak yang cerdas dan ceria menurutku, suamiku mas Setya
bekerja sebagai supervisor di sebuah perusahaan Garmen di Surakarta. Perusahaan
yang sudah terkenal hingga mancanegara. Raisa anak sulungku tahun ini kelas 5
SD, Haikal kelas 2 SD dan si kecil Rafi baru saja masuk TK. Cukup merekalah
yang membuatku bahagia dan ikhlas ketika mas Setya memintaku untuk keluar dari
pekerjaanku sebagai salah satu Editor di perusahaan percetakan di kota Liwet
ini.
Sore
itu suamiku pulang kerja dengan wajah sumringah, “Assalamu’alaikum... Ayah
pulang..” dari dalam aku dan anak-anak menjawab “Wa’alaikumusalam...” si kecil
Rafi berlari menyambut sambil menggandeng tangan Ayahnya “Ayah tadi Rafi seneng
dong di sekolah, Rafi dapat bintang dari bu guru karena Rafi bisa nulis nama Ayah”.
“Pinter anak Ayah, sini semua kumpul sini. Ada hadiah untuk kalian semua”.
Anak-anak berlari menghambur ke Ayahnya, aku kebelakang membuatkan teh untuk
mas Setya. Suamiku tercinta yang tidak pernah sekalipun marah dengan semua
masalah aku dan anak-anak ciptakan. Kalaupun sudah tidak sabar dia hanya diam,
itulah yang membuat Ayah menjadi teman, suami, orang tua yang sangat ajaib bagi
kami.
Setelah
kami berkumpul di ruang tengah Ayah mengeluarkan sebuah amplop, “Ibu dan
anak-anakku yang pinter Ayah punya hadiah untuk kalian”. Suamiku membuka amplop
dan membacanya dengan lantang “Kepada yang terhormat bapak Setya Dwi Nugraha
dengan surat ini kami memberitahukan bahwa terhitung tanggal 1 Juni 2012 anda
akan menempati posisi sebagai Manajer Keuangan PT. Indah Garmen Surakarta,
tertanda-Direktur-bapak Wisnu Guntoro, ST, MT..”. Serentak kami bersyukur
“Alhamdulillah...”. hanya si kecil Rafi yang terlihat masih bingung. Suamiku
mendapat SK promosi untuk jabatannya, Alhamdulillah Allah mendengar do’a-do’a
kami.
Lima
bulan sudah kami menikmati fasilitas kantor yang jadi hak mas Setya, suami dan
anak-anak berangkat dengan mobil, sehingga aku bisa memakai motor mas Setya
untuk kebutuhanku keluar rumah. Lima bulan sudah kami menempati rumah kecil
sederhana di sebuah perumahan sebagai tunjangan jabatan mas Setya. Hingga
kemudian hari naas itu terjadi.
Seperti
biasa mas Setya pulang kantor melewati daerah Pucanganom jalan desa yang
dilewati jalur rel kereta tanpa pos penjagnya dan palang darurat kereta. Mobil
mas Setya melintas dengan cepat takut ada kereta yang tiba-tiba lewat, namun
karena terlalu kencang mas Setya tidak melihat bahwa ada sepeda melintas
didepannya. Mencoba menghindarinya mas Setya membanting setir ke kanan dan
Bres! Mobil mas Setya menabrak sebuah tugu hingga roboh menindih mobilnya.
***
Selama
1 minggu mas Setya berjibaku di UGD rumah sakit Dr. Moewardi, kini mas Setya
sudah lebih baik kesehatannya. Namun mas Setyaku tidak seperti mas Setyaku yang
dulu dan tidak lagi seperti Ayah yang ceria bagi anak-anak. Mas Setya lebih
banyak diam, menghabiskan waktunya untuk tilawah Al Qur’an, menambah hafalannya
dan membaca buku-buku kesayangannya. “Bu, maafkan Ayah. Waktu Ibu
bersama-anak-anak jadi tersita karena mengurus Ayah di sini”. “Ayah tidak usah
bilang begitu, ini kewajiban Ibu. Anak-anak juga tidak usah dikhawatirkan,
mereka sekarang ikut budhenya di Tipes. Budhe Retna yang akan antar jemput
anak-anak sekolah”. Mbak Retna adalah anak tertua dari keluarga mas Setya.
Satu
minggu setelah pemulihan mas Setya sudah diperbolehkan melakukan rawat jalan,
anak-anak juga sudah diantar ke rumah kami lagi. “Ayah, kenapa kaki Ayah di
bungkus begini?” tanya Rafi. “Kaki Ayah sakit dek, jadi dek Rafi ga boleh minta
gendong Ayah lagi” kak Raisa menjawab pertanyaan adiknya. Mas Setya hanya
tersenyum, dia sadar kaki kanannya sekarang tinggal sampai lutut. Dokter
berkeputusan agar kaki mas Setya diamputasi karena tulang betisnya sudah remuk
tertimpa robohan tugu yang ditabraknya saat kecelakaan.
Sikap
diamnya mas Setya semakin menjadi ketika rombongan direksi perusahaannya datang
menengoknya serta memberikan SK bahwa mas Setya harus “dirumahkan” alias di
PHK. Pekerjaan yang dia geluti selama hampir 20 tahun hilang begitu saja,
bahkan pada posisi mas Setya mulai merasakan bayaran atas jerih payahnya dulu.
“Ibu,
lengkap sudah kekurangan Ayah. Kaki tinggal sebelah, pekerjaanpun hilang. Apa
yang bisa Ibu harapkan dari suami seperti Ayah?” terus terang kepalaku berat
sekali mendengar ungkapan suamiku barusan. Sudah tiga hari ini aku harus bolak balik mengangkut barang-barang
dari rumah dinas untuk pindah kembali ke rumah ini. Mengurus pengembalian mobil
dan pembayaran perbaikannya. Belum lagi mengurus klaim asuransi mas Setya
dengan pihak asuransi dan rumah sakit, sungguh pekerjaan yang sangat menguras
tenaga, pikiran dan waktu. “Ayah, tolong Ayah jangan bilang begitu. Harus nya Ayah
bisa lebih menguatkan Ibu. Ibu sekarang harus bisa menghadapi semua masalah
ini” tanpa sadar air mataku mengalir deras, luapan beberapa masalah dan rasa
lelah akhir-akhir ini. “Ibu kecewa
dengan Ayah? Ayah tidak bisa memberikan semua yang Ibu dan anak-anak butuhkan”.
Sahut suamiku. “Ya Ayah, Ibu sangat kecewa. Ibu sangat kehilangan suami yang
dulu, kehilangan Ayah yang selalu memberikan semangat untuk kita semua”.
Jawabku. “ Tapi kini berbeda bu, Ayah tidak seperti dulu, Ayah...”. ku peluk
suamiku agar tidak meneruskan kata-katanya. Cukuplah kelelahanku, tidak ingin
lebih lelah dengan mendengar keputus asaan suamiku.
***
Sepulang
dari kantor aku tidak langsung pulang, ku sempatkan mampir ke masjid di sebelah
kantor. Setelah aku di terima lagi di kantorku dulu, otomatis semua keuangan
rumah tangga menjadi tanggung jawabku. Ku gelar sajadah, aku tunaikan sholat
sunah dua rekaat. Entah sholat apa ini? Aku hanya butuh untuk sujud kepada
Tuhanku, menyerahkan semua keluh kesahku, mengistirahatkan semua kelelahanku.
“Ya Allah jika memang semua ini yang terbaik untuk kami, tunjukkanlah apa
maksudMu untuk kami Ya Robby”. Hampir satu jam aku berdiam di masjid ini, meluapkan
semua keresahan hatiku. Kurapikan rukuh dan sajadahku. Pulang untuk suami dan
anak-anakku.
“Ibu,
Ayah ada tawaran dari Ustadz Mubaroq untuk bantu ngajar anak-anak pondok
Tahfidz. Tadi pagi beliau ke rumah, kalau Ayah menerima kira-kira Ibu setuju
tidak? Lumayan bu, ada sedikit uang lelahnya. Kan bisa bantu Ibu untuk membayar
sekolah anak-anak” mas Setya memberi kabar yang sangat membuat hatiku trenyuh.
“Alhamdulillah Yah. Tapi nanti Ayah naik apa sampai ke pondok?”. “Ada mobil
pondok yang akan antar jemput Ayah dan anak-anak boleh ikut untuk belajar di
sana, jadi Ibu setuju? Kalau Ibu setuju, besok SK akan diantar langsung oleh
Ustadz”. Air mataku menetes, Ya Allah, Engkau jawab semua pertanyaanku.
Ternyata inilah yang Engkau inginkan dari kami. Suami menjadi pengajar Al
Qur’an dan anak-anak belajar tahfidz dengan gratis. Kini do’aku, ijinkanlah
kami Ya Allah merencanakan rumah untuk kami sekeluarga di Jannahmu. Aamiin.
(TNH)
*)
SK : Surat Keputusan
0 comments